My Blog List

Wednesday, October 20, 2010



Anwari Doel Arnowo
20/10/2010
Pahlawan
Akhir-akhir ini banyak sekali orang menyebut masalah kepahlawanan.
Dari Pahlawan Nasional sampai dengan pahlawan devisa, mereka ini adalah para pekerja (umumnya Pembantu Rumah tangga yang bekerja di luar negeri dan menghasilkan devisa)
Pahlawan bagi saya bisa terjadi karena perbuatan yang dianggap heroik oleh kalangan orang banyak. Tergantung kalangan di mana terjadinya perbuatan kepahlawanan. Tergantung kepada waktu dan sifat kepahlawanannya juga. Yang boleh menilai kepahlawanan itu hanyalah orang lain di luar dirinya sendiri, termasuk boleh saja anaknya pribadi, seperti baru-baru ini dikemukakan oleh anak bekas pimpinan pemerintahan orde baru, yang menyatakan bahwa pengakuan soal kepahlawanan adalah soal waktu saja. Surak, surak horeee kata orang Jawa.
Mereka yang sepihak dengan sang anak itu tentu gembira , karena selama pemerintahan sang ayah yang pimpinan orde baru itu, mereka telah diuntungkan secara materi dan macam-macam komoditi hasil dari  pencuri nomor satu di dunia, sebagai yang telah mencuri sejumlah uang senilai 15 sampai 35 miliar US Dollar dengan pernyataan resmi dari StAR (Stolen Assets Recovery) yang diketuai oleh Sekretaris Jenderal PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) Ban-Ki Moon. Silakan baca Bab 2.2 Table 1 di : http://siteresources.worldbank.org/NEWS/Resources/Star-rep-full.pdf
Saya tidak mengiri, saya tidak ingin mendapat bagian setitikpun materi dari kemuliaan dan kekayaan yang timbul terhadap bapaknya sang anak ini. Justru saya amat kasihan terhadap upaya ini, yang mau  mengangkat sesuatu yang dianggap amat “penting”, tetapi tidak memerdulikan sakit hatinya jutaan manusia lain yang telah dianiaya dan disengsarakan serta telah dicabut hak-haknya berikut nyawanya. Sebagai manusia biasa nyawa adalah harta terakhir yang dimilikinya. Yang seperti ini pun dicabut juga. Janganlah seperti yang selalu telah terjadi, bahwa kalau ada perbuatan jelek maka pelakunya adalah oknum. Pimpinan lepas dari tanggungjawab. Saya kupas dan mengingatkan saja bahwa sifat-sifat yang melekat di dalam kriteria kepahlawanan sungguh amat jauh dari yang begitu.
Jaman dahulu kala para pahlawan dengan mudah diciptakan, biasanya dengan myth (mitos) berupa kekuatan ekstra manusia, yang tidak dimiliki oleh sembarang orang biasa. Gatotkaca bisa terbang, demikian juga superman, Raja atau Ratu tidak mempan senjata tajam, Raja yang yang memiliki kesaktian Illahi, mencarikan kedekatan sang Sultan dengan kekuatan ghaib, mengarah ke-Dewa-an. Kemudian ada peranan sejarawan yang biasanya selalu dekat dengan sang penguasa, yang bersedia menuliskan secara bombastis kehebatannya sang penguasa. Anda bayangkan saja bagaimana mungkin Khubilai Khan di”cerita”kan telah dapat menggerakkan tentaranya sekian ratus ribu manusia beserta pasukan berkudanya menaklukkan Eropa dan menjalani rute dari Mongol ke Eorpa. Makan waktu berapa tahun waktu itu?? Bandingkan dengan yang ada di link berikut: http://en.wikipedia.org/wiki/Kublai_Khan .  Bila anda yang berkuasa, saat ini, dan menggerakkan pasukan seperti itu dengan fasilitas modern yang ada, Pesawat Hercules dan logistik makanan serta perlengkapan perang dari Mongol ke Eropa, sanggupkah??
Dalam hal kepahlawanan Soekarno, bersama dengan Mohammad Hatta,  saya ingin mendapatkan kepastian apakah beliau sudah pernah mendapat gelar Pahlawan Nasional dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mereka proklamasikan. Apakah Gelar Pahlawan Proklamator itu sudah setara ataukah masih belum sama, dengan Gelar Pahlawan Nasional? Sudah saya upayakan mendapatkan data resminya seperti antara lain saya baca di :   http://id.wikipedia.org/wiki/Soekarno . Tolong bantulah saya mencarikannya di mana saya akan bisa pakai sebagai referensi resmi untuk selanjutnya. Hal ini saya pandang amat penting bagi kejujuran terhadap anak-anak dan cucu-cucu kita di kemudian hari. Saya tidak punya kepentingan lain. Juga silakan baca: http://www.jpnn.com/read/2010/10/18/74795/Kemensos-Usulkan-10-Calon-Pahlawan-Baru-ke-Istana-
Apabila pihak penguasa sekarang ingin sekali menjalankan hal-hal yang berlawanan dengan aspirasi dari masyarakat Indonesia yang saya golongkan sebagai The Silent majority (Masyarakat mayoritas yang diam-diam saja) itu biasanya karena hal-hal seperti berikut ini.  Bahwa masyarakat yang seperti ini exist (nyata-nyata ada) di dalam kalangan Republik kita, janganlah tidak percaya. Masyarakat yang seperti ini ada, yang secara sengaja pura-pura tidak perduli karena sesungguhnya ketakutan akan terganggu kehidupannya. Selama masih ada rasa seperti ini, berarti kita tidak akan mampu untuk berlaku jujur kepada anak-anak dan cucu-cucu kita yang ada dan yang akan datang.
Banyak di antara para pahlawan yang telah keliru kita angkat dan sama sekali tidak pantas dijadikan pahlawan. Yang telah bersemayam di Taman Makam Kailbata saja sudah sekian banyak yang koruptor kelas ikan hiu, bukan sekedar kakap. Yang menempelkan Bintang Mahaputra di DADA ISTRINYA SENDIRI JUGA SUNGGUH-SUNGGUH MENAKJUBKAN “KEBERANIANNYA BERBUAT SEPERTI ITU”
Ayah saya sendiri juga bukan pahlawan apa-apa, tetapi patungnya ada didirikan di dalam lingkungan Tugu Pahlawan di kota Surabaya. Ironisnya para penanda-tangan peresmian Tugu Pahlawan inipun sampai hari ini, saya duga belum atau tidak pernah diumumkan sebagai Pahlawan. Mereka itu adalah Walikotamadya Surabaya (1950s/1952) bernama Doel Arnowo dan Presiden Republik Indonesia(1945 s/d 1966?) bernama Ir. Soekarno.
Saya masih menganggap ayah saya sebagai ayah saya yang utuh, sebagai ayah dengan 11 orang anak dan saya sebagai anak ketiga. Bersama Ibu saya, Chadidjah, telah membina rumah tangga selama 53 tahun lamanya dan di dalam rumah tangga seperti inilah ayah saya adalah pahlawan saya. Tidak diberi gelar Pahlawan apapun oleh Negara, itu bukan persoalan bagi saya dan semua saudara saya. Bertubi-tubi kepada saya,  selaku wakil keluarga, datang permintaan agar nama ayah saya digunakan untuk nama salah satu jalan di Surabaya, saya menolaknya karena begitulah keputusan keluarga yang ditinggalkan beliau. Meskipun tidak sesuai dengan pesan pribadi, yang diketaui oleh banyak kalangan masyarakat, ayah saya menginginkan agar tidak dimakamkan di Taman Makan Pahlawan yang manapun, tetapi faktanya sekarang makam beliau ada di TMP jalan Majen. Soengkono di Surabaya. Hal ini karena kemauan ibu saya, yang amat prihatin dengan kondisi pada waktu itu dari  Makam Jalan Tembok Dukuh di mana ayah beliau: Arnowo dimakamkan, telah bertumpuk-tumpuk dengan makam para anggota keluarga yang lain. Di makam Ngagel, di mana Boeng Tomo dimakamkan, juga sering sekali banjir di mana jenazah dimasukkan kedalam lubang yang penuh air. Itulah sebabnya mengapa atas desakan Sekretariat Negara, Gubernur Jawa Timur Majen. Wahono dan Walikota Surabaya Kolonel drg. Poernomo Kasidi  ayah saya akhirnya disetujui oleh ibu saya untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.   
DSCN0009.JPGDSCN0007.JPG
Photo saya dan istri di depan Patung Doel Arnowo, dan prasasti di bawahnya.

Anwari Doel Arnowo
Toronto 20/10/2010









Wednesday, October 13, 2010

DEBAT ATHEIST DAN YANG PERCAYA

Yang percaya Tuhan, Agama, Tuhan dan Agama,  Agama saja lupa Tuhan atau Tuhan saja tanpa Agama berdebat dengan Yang Atheist (Tidak Percaya Tuhan dan Agama) ... 



DEBAT MUNK


Hitchens, Blair to debate role of faith

SONIA VERMA

From Tuesday's Globe and Mail
Published Tuesday, Oct. 12, 2010 3:00AM EDT
Last updated Wednesday, Oct. 13, 2010 9:29AM EDT
·                  Email
·                   
·                   
·                  Print/License
·                  Decrease text sizeIncrease text size
Click Here
One is a prominent atheist, the other a devout Roman Catholic. Both share mutual admiration for each other, but for a few hours next month, they will be adversaries, facing off over the contentious topic of religion.
Renowned author and journalist Christopher Hitchens and former British prime minister Tony Blair will share a stage for the sixth semi-annual Munk Debates this November.

MORE RELATED TO THIS STORY

·                                 Cherie Blair: Don't even try to keep her quiet
VIDEO

Hitchens skips own prayer vigil

“This debate is not about the existence of God,” says Rudyard Griffiths, co-director and moderator of the Munk Debates.
“We have asked Mr. Blair and Mr. Hitchens to wrestle with the more immediate question facing developed and developing nations: Is religion a force for peace or conflict in the modern world?” he explained.
The official resolution, “Be it resolved, religion is a force of good for the world,” is close to the hearts of both debaters.
Arguing for the resolution, Mr. Blair said: “Understanding religion and people of faith is an essential part of understanding our increasingly globalized world.”
“The good that people of faith all over the world do every day, motivated by their religion, cannot be underestimated and should never be ignored. But there are a lot of misconceptions out there about religion.
“Challenging the myths that are born out of the actions and words of a controversial few is incredibly important,” added Mr. Blair, who has served as the Quartet’s special envoy to the Middle East, and recently released his bestselling memoir, A Journey: My Political Life.
Religion has figured more prominently in the former prime minister’s life since he left office. Two years ago, he launched the Tony Blair Faith Foundation, which promotes “respect and understanding” among the world’s three major religions.
Mr. Hitchens, in contrast, has renewed his beliefs in atheism since being diagnosed with esophageal cancer earlier this year. His most recent bestselling books, God Is Not Great: How Religion Poisons Everything, andHitch-22: A Memoir, argue religion is a false promise that fosters apathy.
Speaking from his home in Washington where he is undergoing chemotherapy, he said religious people tend to claim moral authority on ethical issues which is often false.
While he respects many of the political decisions Mr. Blair made while he was in office, including international interventions in the Balkans, Sierra Leone and Iraq, he says he’s confounded by Mr. Blair’s recent public embrace of religiosity.
“He couldn’t do it while he was prime minister, but he went ‘over to Rome’ as soon as he could. Very bizarrely he did this at one of the most conservative times for the Catholic Church, under one of the most conservative Popes,” he said.
“I’ve never had the chance to sit down on talk it through with him … It’s not like I’m going to be arguing with [U.S. televangelist] Pat Robertson. Mr. Blair’s a much more complex person than that,” he added.
Mr. Blair, for his part, said he was “delighted that I’ll be putting my argument across in the Munk Debates … discussing a subject that is of utmost importance to world affairs.
“Christopher, for whom I have great respect, promises to be a formidable opponent,” he said.
While previous debaters have included heavy hitters such as special envoy Richard Holbrooke and HIV/AIDS UN special envoy Stephen Lewis, this fall’s debaters are generating international buzz.
“There is interest from all over the world,” said Peter Munk, who created the debates through the Aurea Foundation, a Canadian charity he established with his wife, Melanie, in 2006.
“This is going to be a heated, stimulating and informative debate on a subject as current as it gets,” he said.
The Munk Debates are open to the public. The debate will take place on Friday, Nov. 26, at Roy Thomson Hall in Toronto at 7 p.m. with a free public reception to follow. Tickets go on sale 11 a.m. on Oct. 14.
Live streaming will be available at www.munkdebates.com


Ini terjemahan otomatik Google:


Hitchens, Blair untuk berdebat peran ke-iman-an
Sonia Verma
Dari hari Selasa Globe dan Mail
Diterbitkan Selasa, 12 Oktober 2010 03:00 EDT
Terakhir diperbaharui Rabu, 13 Oktober 2010 09:29 EDT
94 comments
• Email


• Cetak / Lisensi
• Penurunan teks sizeIncrease ukuran teks

Satu adalah ateis terkemuka, yang lain taat Katolik Roma.Keduanya saling mengagumi berbagi satu sama lain, tetapi untuk beberapa jam bulan depan, mereka akan lawan, menghadap off atas topik perdebatan agama.
pengarang terkenal dan wartawan Christopher Hitchens dan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair akan berbagi panggung untuk Debat Munk keenam semi-tahunan bulan November ini.
LEBIH BERHUBUNGAN DENGAN CERITA INI
• Cherie Blair: Jangan pernah mencoba untuk tetap tenang
• mohon tidak dewa Anda untuk ateis Hitch

VIDEO
Hitchens melompati penjagaan doa sendiri
"Perdebatan ini bukan tentang keberadaan Tuhan," kata Rudyard Griffiths, co-direktur dan moderator Debat Munk.
"Kami telah meminta Mr Blair dan Mr Hitchens untuk bergulat dengan pertanyaan yang lebih mendesak yang dihadapi negara maju dan berkembang:? Apakah agama kekuatan bagi perdamaian atau konflik dalam dunia modern" jelasnya.
Resolusi resmi, "Jadilah itu diselesaikan, agama merupakan kekuatan yang baik bagi dunia," dekat dengan hati dari kedua debat.
Berdebat untuk resolusi, Mr Blair mengatakan: "Memahami agama dan orang-orang beriman merupakan bagian penting dari pemahaman dunia kita yang semakin global."
"Yang baik bahwa orang-orang beriman seluruh dunia lakukan setiap hari, termotivasi oleh agama mereka, tidak dapat diremehkan dan tidak boleh diabaikan. Tetapi ada banyak kesalahpahaman di luar
sana tentang agama.
"Menantang mitos yang lahir dari tindakan dan kata-kata beberapa kontroversial adalah sangat penting," tambah Mr Blair, yang telah menjabat sebagai utusan khusus Kuartet untuk Timur Tengah, dan baru-baru ini merilis memoar laris, A Journey: My Life Politik.
Agama telah berpikir lebih menonjol dalam kehidupan mantan perdana menteri sejak ia meninggalkan kantor. Dua tahun lalu, ia meluncurkan Tony Blair Faith Foundation yang mempromosikan "menghormati dan pemahaman" di antara tiga agama besar dunia.
Mr Hitchens, sebaliknya, telah memperbaharui kepercayaan di ateisme sejak didiagnosa menderita kanker esophagus awal tahun ini. buku laris terbaru Nya, Allah Bukan Great: Bagaimana Racun Agama Semuanya, andHitch-22: A Memoir, berpendapat agama adalah janji palsu yang menumbuhkan sikap apatis.
Berbicara dari rumahnya di
Washington di mana ia menjalani kemoterapi, ia mengatakan bahwa orang agama cenderung mengklaim otoritas moral tentang isu-isu etis yang sering salah.
Sementara ia menghormati banyak keputusan politik Mr Blair dibuat saat dia di kantor, termasuk intervensi internasional di Balkan,
Sierra Leone dan Irak, katanya dia bingung oleh publik baru-baru ini Mr Blair pelukan religiusitas.
"Dia tidak bisa melakukannya ketika dia perdana menteri, tapi ia pergi 'ke Roma' sesegera mungkin. Sangat aneh ia melakukan hal ini pada salah satu saat yang paling konservatif bagi Gereja Katolik, di bawah salah satu Paus yang paling konservatif, "katanya.
"Aku tidak pernah punya kesempatan untuk duduk di berbicara melalui dengan dia ... Ini tidak seperti aku akan berdebat dengan [AS televangelis] Pat Robertson. Mr Blair orang kompleks lebih dari itu, "tambahnya.
Mr Blair, untuk bagian itu, mengatakan ia "senang bahwa saya akan meletakkan argumen saya di dalam Debat Munk ... membahas topik yang sangat penting untuk urusan dunia.
"Christopher, untuk siapa saya sangat menghormati, berjanji untuk menjadi lawan yang tangguh," katanya.
Sementara debat sebelumnya telah menyertakan hitter berat seperti utusan khusus Richard Holbrooke dan HIV / AIDS Utusan khusus PBB Stephen Lewis, debat ini jatuh adalah menghasilkan buzz internasional.
"
Ada minat dari seluruh dunia," kata Peter Munk, yang menciptakan perdebatan melalui Yayasan Aurea, sebuah badan amal Kanada ia mendirikan bersama istrinya, Melanie, pada tahun 2006.
"Ini akan menjadi panas, merangsang dan debat informatif pada subjek lancar karena mendapat," katanya.
Munk Debat terbuka untuk umum. Perdebatan akan berlangsung pada hari Jumat, 26 Nov di Roy Thomson Hall di Toronto pukul 7 malam dengan penerimaan umum gratis untuk mengikuti. Tiket mulai dijual 11:00 pada 14 Oktober.
Live streaming akan tersedia di
www.munkdebates.com

Monday, September 20, 2010

A Fine Lady





Hari Minggu, tanggal 19 September, 2010
Di The Beaches, Queen Street East
Toronto, Kanada

Saya sedang memegang camera membuat photo istri saya melawan sinar matahari pagi. Saat itu pukul 07:23:34 matahari terbit pukul 07:01 karena baru saja musim panas berakhir, dan mulailah resminya memasuki musim gugur (Autumn atau Fall), bertepatan dengan waktu hari libur Labour Day pada hari Senin yang lalu . Matahari tenggelam pada hari ini pukul 07:26. Lumayan bisa sama banyaknya siang dan malam hari. Selama bulan Puasa yang lalu matahari, lebih dari sehari berada di langit melebihi 14 jam lamanya. Berbuka puasa bisa saja pada pukul 20:45 malam hari, padahal terbitnya matahari pada sekitar pukul 05:45 !
Tampak dari jauh seorang Ibu berlari bersama anjingnya dan terlihat  membelokkan arah ke arah kami berada. Ketika telah cukup dekat, sambil sedikit tersengal napasnya, dia berkata kepada saya:”Can I help with your camera, taking picture for both of you??” Ini adalah pertanyaan biasa yang ditawarkan oleh orang kalau melihat seseorang yang sibuk memotret dan tidak sempat memasukkan dirinya sendiri sebagai yang dipotret. Itu sopan santun umum di sini. Wah saya jawab tidak usah saja, cukup, terima kasih. : “Tetapi apakah saya boleh memotret anjingmu yang lucu itu??” Ini juga basa basi biasa memuji anjing orang lain. Sejak lama sudah saya biasa berbasa-basi cara di sini seperti ini. Tetapi sering juga saya merasakan bukan sebagai basa-basi, tetapi terasa nyaman juga di hati saya. Bincang-bincang seperti ini bukannya tidak berguna, lumayan juga sering bisa mendatangkan rasa gairah positif, siapapun lawan bicaranya.
Dia terlihat senang anjingnya mendapat perhatian orang lain, dan sambil mengucapkan: “Have a nice walk”, yang saya jawab juga: “And you too”. Setelah saya ambil photonya seperti terlihat di atas, dia meneruskan larinya dan kami berdua berjalan di belakang sang lady.
Tiba-tiba saja saya lihat dia membongkokkan badannya dan mengambil sesuatu. Oh, dia mengambil sebuah gelas bekas kopi yang dibuang orang di bawah sebuah bangku untuk isitirahat yang amat banyak disediakan di sepanjang  pantai ini. Hampir sekitar setiap 50 meter selalu ada bangku seperti ini, dipakai orang untuk duduk menghadap ke pantai Danau Ontario yang luas sekali. Bangku seperti ini biarpun hampir semua seragam bentuknya, ternyata disumbang oleh warga kota yang ingin memperingati salah seorang anggota keluarganya atau disayanginya, tampak seperti pada plaquette berbahan metal, yang ditulisi dan dilekatkan pada tiap-tiap bangku. This Fine Lady meneruskan larinya sambil tetap menggenggam gelas sekali pakai itu, dan terlihat sekitar seratus meter dari tempat kami berjalan, dia membuangnya ke dalam tempat sampah yang tersedia. Yang seperti ini juga pernah saya lihat dan saya sendiri telah melakukannya juga untuk bungkus permen dan kertas/plastik apa saja, yang berada di luar tempat sampah.
He, saya tiba-tiba berpikir, di Tanah Air sendiri, mengapa tidak saya lakukan lebih sering, seperti saya pernah lakukan kadang-kadang? Saya hanya senang melakukannya ketika sedang berada di dalam sebuah Mal yang besar dan bersih. Karena apa? Karena ada tempat pembuangannya! Mestinya lebih sering saya lakukan, karena sudah jelas pemerintah tidak terlalu perduli, atau pak Gubernur, Walikota dan Bupati, mungkin Pak Camat, Pak Lurah, Ketua RW dan RT juga hampir tidak perduli sama sekali. Bagaimana Kepala Keluarga??
Sekarang saya baru sadar, mengapa saya tidak sering melakukannya! Itu disebabkan karena tidak banyak saya lihat tempat sampah untuk umum yang mampu disediakan oleh pemerintah. Oh, ya saya mengerti juga bahwa sebagai akibat pengadaan tempat-tempat buang sampah, maka harus ada pengangkutan sampah yang efisien, dan itu memerlukan biaya, biaya dari mana? Dari Pajak, dong!!
Ahaaa .... Pajaknya sudah habis dipakai untuk ... Untuk apa??
Akhirnya saya ingat lagi kepada kasus-kasus pajak yang terjadi.
Lingkaran setan memang ada di mana-mana di Indonesia  .....
Setan?? Siapa yang disebut setan????
Maka mulailah lagi kita berputar-putar  sepanjang garis lingkaran.
Lingkaran apa ??  
Ha ha ha ...

Anwari Doel Arnowo
Toronto, 2010/09/20

Wednesday, July 28, 2010

KESEPIAN MEMBUNUH MANUSIA YANG TANPA PERGAULAN

Anwari Doel Arnowo
KESEPIAN

Membaca sesuatu yang menarik perhatian orang seperti saya karena sesuai dengan pemikiran manusia lanjut usia, datangnya seperti kilat saja. Bercahaya terang dan mencuatkan pikiran yang berbunyi nyaring: “Eh, mengapa saya tidak pernah memikirkannya sebelum ini?”.
Saya baca di sebuah surat khabar mengenai hal berikut.
Selama ini kita menyatakan perang terhadap merokok tembakau, meminum alkohol dan menjadi kegemukan. Mengapa kita tidak menyatakan perang terhadap hubungan yang tidak menyenangkan dan isolasi dari masyarakat sosial di sekitar dan kesepian karena tidak ada teman??
Sesuai dengan sekitar 148 kali pendalaman masalah dengan melibatkan lebih dari 300.000 manusia di Eropa dan Amerika Utara, tiga masalah itu telah menjadi salah satu sebab yang lebih besar dari akibat merokok 15 batang sehari, dan atau 6 kali sehari mengonsumsi minuman beralkohol dan kegemukan dengan lingkar perut minimum 92 centi meter (hahaha ini ukuran lingkar perut saya sendiri saat ini). Kondisi kesepian kurang berteman ini, kurang bergaul dengan dan  terisolasi dari masyarakat di sekitarnya, ini adalah penyebab kematian lebih dini atau lebih cepat dari mereka yang merokok, minum alkohol dan kegemukan.
Memang sesungguhnya tidak ada atau sedikit sekali orang meninggal karena kesediriannya yang memang menjadi nasib kehidupannya, akan tetapi kesepian adalah salah satu penyebab dari mudahnya terserang oleh penyakit, termasuk gagal jantung,  HIV dan AIDS dan kesepian juga membuat arah yang membawa orang mengambil langkah hidup tidak sehat.
Terbukti dari semua pendalaman bahwa seorang teman yang baik adalah justru menjadi penagkal penyakit. Berteman tidak cukup hanya berhubungan dengan sms dan email, tetapi amat perlu bertatap muka dan bergaul berkesinambungan. Itulah mengapa main kartu bridge, main catur, menyanyi bersama dan olahraga serta makan dan beromong-omong  kosong main keroncong bersama juga, akan banyak sekali manfaat dan gunanya bagi segenap  usia, bukan hanya orang usia lanjut saja.
Berpuluh-puluh tahun yang lalu sudah terbukti banyak kematian dini dari anak-anak yang hidup di penampungan anak-anak terlantar, hanya  karena tidak ada atau kurang ada yang memperhatikan nasibnya yang kesepian. Seorang Professor bernama Holt-Lunstead menuliskan bahwa sebaik apapun status kesehannya dan sebaik apapun tingkat pemeliharaan kehidupannya, kekurangan hubungan antar manusia jelas akan menyebabkan kematian. Hal ini menjadi kenyataan yang gamblang dan sekarang masyarkat medis semua terpesona serta terkejut bahwa  kanak-kanak itu amat mungkin meninggal hanya karena kurang atau sama sekali tidak ada hubungan langsung dengan manusia lain.
Adalah rasa diperhatikan dan dikasihi oleh manusia lain itu sesuatu yang patut dianggap lebih baik dari kalau berhenti merokok, mengurangi mengonsumsi akohol dan mengurangi  menjadi gemuk. Ada juga yang lucu juga pengamatan yang membuktikan bahwa lulusan sebuah sekolah bergengsi di Amerika bernama Harvard yang keren kehidupannya, yang tentu saja pasti lain dari masyarakat biasa yang kurang beruntung. Pengamatan dilakukan sejak yang lulusan Harvard tahun 1940an, telah tidak saja mencatat sebagian hidup sukses, menjadi Presiden dan kaya raya, tetapi banyak juga yang menjadi pemabuk dan sakit mental.
Saya bisa menyimpulkan bahwa sebaiknyalah kita menjadi manusia biasa saja, tidak merasa diri terlalu dan selalu lebih baik dari orang lain. Gengsi itu memang bisa memporak peranda kehidupan manusia, kalau tidak pandai mengelolanya. Titel akademis, titel kebangsawanan dan titel kehormatan itu biasanya menikmatkan rasa ego menjadi lebih mapan, akan tetapi banyak orang yang lupa bahwa itu addalah beban berat juga, kalau memang dengan konsekuen menjalankannya.
Waktu saya masih lebih muda usia, saya biasa memarkir mobil saya dan turun naik kendaraan umum seperti bis kota yang reot, atau opelette atau angkot, hanya untuk berdialog dengan diri saya sendiri dalam mengevaluasi diri. Sampai di mana kehidupan dan apa yang telah pernah saya capai. Saya bisa santai saja mengobrol dengan seorang tukang becak atau tukang jual buah di pinggir jalan, terutama kalau sedang menjalankan ritual saya berolah raga berjalan kaki di Tanah Air. Di manapun saya bisa ngobrol dengan orang yang saya baru bertemu dan kenal di situ tanpa bertemu sekali lagi pun. Bisa yang berkulit hitam, coklat, kuning dan putih, tanpa segan karena mereka ternyata juga manusia seperti saya juga.
Itu semua menjadikan dan menuntun saya seperti halnya seorang murid yang banyak diberi pengetauan baru dari seorang guru.
Menghilangkan rasa haus dahaga – quench my thirst.
A friend in need is a friend indeed.
Silakan baca yang di bawah ini sebuah artivcle di harian The Globe and Mail.

Anwari Doel ArnowoToronto 28 Juli, 2010



Zosia Bielski
From Wednesday's Globe and Mail
Relationships have health benefits that can help people live longer, a team of researchers says.
Whether it’s working out with a gym buddy, cooking a healthy meal for family or going to see a doctor on the advice of a spouse, “relationships provide a sense of meaning and purpose in our lives – they can lead us to take better care of ourselves,” said Julianne Holt-Lunstad, an associate psychology professor at Brigham Young University in Provo, Utah.
Prof. Holt-Lunstad co-wrote a report that said that people with strong relationships are 50 per cent more likely to live longer than those with few social links with family, friends, neighbours or colleagues. Or to put it another way, the researchers say their study shows that isolation carries the same risk of early death as smoking 15 cigarettes a day, not exercising, or being an alcoholic or severely obese.
“Our relationships can have direct health benefits,” said Prof. Holt-Lunstad. “They can help us cope with stress. We know we can count on people and have these resources available.”
Prof. Holt-Lunstad co-authored the large-scale report on mortality and social relationships, which was released on Tuesday. The report looks at 148 studies involving 308,849 people. The average age was 64. The participants were evenly split between the sexes, and followed for an average of 7.5 years.
Those who had strong social relationships were 50 per cent more likely to survive through the monitoring phase than their lonely counterparts, which means that those over age 18 with solid relationships lived an average of 3.7 years longer than those with weaker relations.
Relationships as stress busters: It's something Sham Sabherwal has put into practice.
Since losing his wife Sudesh to cancer 19 years ago, Mr. Sabherwal, 77, has been a regular at Toronto’s Stan Wadlow Clubhouse, where he plays bridge every Tuesday afternoon.
“Bridge is a game where you can really find a good friend,” says the retired Firestone administrator, who also volunteers with the Red Cross and the Daily Bread Food Bank.
“People are friendly [at the club]. They try to help each other and understand each other’s problems ... grief you are facing, financial problems, family problems or social problems,” Mr. Sabherwal said. “When you share more, it lightens the burden and takes away the sense that you are the only one who is suffering.”
The study’s authors say that being part of a social network, makes people feel needed and boosts self-esteem. They add that people who feel that others depend on them take better care of themselves. Relationships have been linked to lower blood pressure, better immune functioning and decreases in the length of hospitalizations, the authors write, citing previous studies. Social contact has also been linked to oxytocin, the bonding hormone, which regulates stress.
“Social connection is to humans what water is to fish: you don’t notice it until it’s missing and then you realize it’s really important,” says John Cacioppo, a University of Chicago psychologist who studies social contagion, including the way lonely people perpetuate a cycle of isolation in their communities.
Prof. Cacioppo says modern affluence is generating more solitary lives: “It used to be that when the husband – the wage earner – died, the [surviving] spouse had to move in with friends and family. Now we have affluence, so that the spouse is able to stay in the home alone.”
He sees rampant isolated living among the middle-aged as well: “You’ve got a lot of men living by themselves post-divorce and women whose children have left and now they’re alone.”
Prof. Holt-Lunstad suggests the loss of inter-generational living arrangements, as well as a spike in delayed marriages, dual-career families and age-related disabilities are intensifying the trend.
“...Over the last two decades, there has been a three-fold increase in the number of Americans who report having no confidante,” the authors of the current report write, citing a 2006 study published in the American Sociological Review that looked at 1,467 people over two decades.
The decline in confidantes may come as a surprise in the digital age. Despite Facebook’s recruitment of a 500 millionth user last week, people are losing face time with each other, a point that concerns the authors.
“I do wonder whether or not these online relationships can provide us with the same kinds of benefits and resources as face-to-face physical contact,” Prof. Holt-Lunstad said.
The authors are agitating for public health campaigns that “foster existing relationships and naturally occurring relationships.” The report, co-authored by Timothy Smith and J. Bradley Layton, appears in the current issue of the journal PLoS Medicine.
Dikutip oleh Anwari Doel Arnowo dari The Globe and Mail

Tuesday, July 20, 2010

Pengalaman saya sendiri hari ini


MY EXPERIENCE:
I am a regular coffee drinker the last three years.
On July 10, 2010 I had a thermos full, and that is twice my regular and ritual coffee drinking habit that I had been doing
On July 11, 2010, I had uncomfortable feelings for three days in a row. I had headache, heart throbbing and pain in the back bone like a bit movement will trigger terrible pains here and there at my back, upper and lower. Well I had one pain killer a day, all ceased and I had my “wisdom”: drink beer that I tried and had been avoiding for the last whole one month. The beer drinking happened three days ago. But my coffee drinking in the morning, I keep on doing recklessly, due to the easy availability surrounding me at that time.
This Morning, three hours ago, I made it happen again with my ritual: drink one cup of  Nescafe Encore with Coffee Mate and white sugar. I sat in the verandah on a plastic covered chair and felt heavy breathing and my heart was thumping like I was running jogging, but I was on a sitting position reading Newspaper. My seat felt like moving up and down as if a small Earth tremor was happening. I asked my wife to overtake the seat, and asked if she did feel anything unusual. She said no, nothing at all. I finished my coffee. What amazing me greatly was that I began burping a lot, more than one hundred times. This is like a volcano erupting the smokes and dirt.. for almost an hour or so. Now I am okay, nothing is bothering anymore.
I open my compter and some emails, replied some too, and I found this, the one below. After reading it, I will now drink my ritual morning coffee, but BLACK COFFEE ONLY , no sugar and no coffee mate, and only  two cups a day.
Stay with me and remind me if I forget in the future, being older and forgetful.
Anwari Doel Arnowo –  Toronto, July 20, 2010

How Coffee Affects Blood Sugar
Coffee.
It’s more than just a beverage.
We use coffee to revive ourselves in the morning, to keep us energized by day, and to wind down as we eat our evening dessert. It is a ritual, a tonic, and a statement of friendship. When your neighbor pops by unexpectedly, what do you offer her? A cup of coffee.

More than 50 percent of Americans drink coffee every single day. And of those coffee drinkers, the average is between 3 and 4 cups a day. That’s over 1,200 cups of coffee per year. If you’re drinking over a thousand cups of something every year, shouldn’t you know if it’s good—or bad—for you? Well, the answer to that really all depends on how you take your coffee.

Here’s the short answer: 
Coffee itself is terrific for you. 
It’s caffeine and additives that make things go awry. Best choice for your health: a cup of black, uncaffeinated coffee.

So what’s wrong with caffeine, beyond it sometimes causing the jitters? Research reveals that consuming about 250 milligrams of caffeine—the amount in roughly two cups—triggers a small but measurable increase in blood sugar, particularly after meals. It’s not necessarily a dangerous spike, but for people struggling with blood sugar issues, why consume something that could hurt your efforts?

The answer might be that coffee has many other benefits. For example, 
coffee is the number one source of antioxidants in the American diet—surpassing any fruit, berry, or vegetable by a landslide. (Many types of produce have more antioxidants in them than coffee, but generally we consume way more coffee than any one source of produce). All those antioxidants have been known to protect the liver and colon, and to ward off Parkinson’s and Alzheimer’s disease.

Plus,
other ingredients in coffee are diabetes-friendly. Coffee contains a long list of natural plant compounds, called chlorogenic acids which help to bring down blood-glucose levels. It’s also rich in quinides, compounds that make the body more resistant to insulin. Numerous studies have proven that coffee lowers the risk of type 2 diabetes. In fact, the more cups of coffee you drink per day, the lower your risk. Drink one cup and it lowers your risk 13 percent, drink two cups and that number shoots up to 32 percent!

If all that makes you inclined to keep drinking coffee, we understand. To mitigate the blood-sugar effects of caffeine, spread your coffee drinking out over time, or as we said,
switch to decaf.

As with most naturally good-for-you foods, what you put in—and on—your mug of coffee determines if it will be blood-sugar friend or foe. When you add lots of cream, whole milk, sugar or flavored syrup, you have turned your coffee into the equivalent of a slice of cake—a high-calorie, high-fat dessert. In fact, a fancy coffee drink with whipped cream at Starbucks often exceeds 500 calories—amazing, when you remember that the coffee itself has no calories.

Can’t drink your coffee black? Use nonfat milk or nonfat half and half, especially in milk-heavy drinks like lattes and cappuccinos, and avoid flavored syrups and sugar all together. Do that, and coffee can be your good friend for life.

Hoping this article will be useful for every one.
Analyse yourself accordingly to your own self lifestyle, not necessarily similar to mine.
Anwari Doel Arnowo – 2010/07/20

Blogger: AnwariTorontoArnowo - Publish Status

Blogger: AnwariTorontoArnowo - Publish Status

Pengalaman saya sendiri hari ini


MY EXPERIENCE:
I am a regular coffee drinker the last three years.
On July 10, 2010 I had a thermos full, and that is twice my regular and ritual coffee drinking habit that I had been doing
On July 11, 2010, I had uncomfortable feelings for three days in a row. I had headache, heart throbbing and pain in the back bone like a bit movement will trigger terrible pains here and there at my back, upper and lower. Well I had one pain killer a day, all ceased and I had my “wisdom”: drink beer that I tried and had been avoiding for the last whole one month. The beer drinking happened three days ago. But my coffee drinking in the morning, I keep on doing recklessly, due to the easy availability surrounding me at that time.
This Morning, three hours ago, I made it happen again with my ritual: drink one cup of  Nescafe Encore with Coffee Mate and white sugar. I sat in the verandah on a plastic covered chair and felt heavy breathing and my heart was thumping like I was running jogging, but I was on a sitting position reading Newspaper. My seat felt like moving up and down as if a small Earth tremor was happening. I asked my wife to overtake the seat, and asked if she did feel anything unusual. She said no, nothing at all. I finished my coffee. What amazing me greatly was that I began burping a lot, more than one hundred times. This is like a volcano erupting the smokes and dirt.. for almost an hour or so. Now I am okay, nothing is bothering anymore.
I open my compter and some emails, replied some too, and I found this, the one below. After reading it, I will now drink my ritual morning coffee, but BLACK COFFEE ONLY , no sugar and no coffee mate, and only  two cups a day.
Stay with me and remind me if I forget in the future, being older and forgetful.
Anwari Doel Arnowo –  Toronto, July 20, 2010
How Coffee Affects Blood Sugar
Coffee.
It’s more than just a beverage.
We use coffee to revive ourselves in the morning, to keep us energized by day, and to wind down as we eat our evening dessert. It is a ritual, a tonic, and a statement of friendship. When your neighbor pops by unexpectedly, what do you offer her? A cup of coffee.

More than 50 percent of Americans drink coffee every single day. And of those coffee drinkers, the average is between 3 and 4 cups a day. That’s over 1,200 cups of coffee per year. If you’re drinking over a thousand cups of something every year, shouldn’t you know if it’s good—or bad—for you? Well, the answer to that really all depends on how you take your coffee.

Here’s the short answer: 
Coffee itself is terrific for you. 
It’s caffeine and additives that make things go awry. Best choice for your health: a cup of black, uncaffeinated coffee.

So what’s wrong with caffeine, beyond it sometimes causing the jitters? Research reveals that consuming about 250 milligrams of caffeine—the amount in roughly two cups—triggers a small but measurable increase in blood sugar, particularly after meals. It’s not necessarily a dangerous spike, but for people struggling with blood sugar issues, why consume something that could hurt your efforts?

The answer might be that coffee has many other benefits. For example, 
coffee is the number one source of antioxidants in the American diet—surpassing any fruit, berry, or vegetable by a landslide. (Many types of produce have more antioxidants in them than coffee, but generally we consume way more coffee than any one source of produce). All those antioxidants have been known to protect the liver and colon, and to ward off Parkinson’s and Alzheimer’s disease.

Plus,
other ingredients in coffee are diabetes-friendly. Coffee contains a long list of natural plant compounds, called chlorogenic acids which help to bring down blood-glucose levels. It’s also rich in quinides, compounds that make the body more resistant to insulin. Numerous studies have proven that coffee lowers the risk of type 2 diabetes. In fact, the more cups of coffee you drink per day, the lower your risk. Drink one cup and it lowers your risk 13 percent, drink two cups and that number shoots up to 32 percent!

If all that makes you inclined to keep drinking coffee, we understand. To mitigate the blood-sugar effects of caffeine, spread your coffee drinking out over time, or as we said,
switch to decaf.

As with most naturally good-for-you foods, what you put in—and on—your mug of coffee determines if it will be blood-sugar friend or foe. When you add lots of cream, whole milk, sugar or flavored syrup, you have turned your coffee into the equivalent of a slice of cake—a high-calorie, high-fat dessert. In fact, a fancy coffee drink with whipped cream at Starbucks often exceeds 500 calories—amazing, when you remember that the coffee itself has no calories.

Can’t drink your coffee black? Use nonfat milk or nonfat half and half, especially in milk-heavy drinks like lattes and cappuccinos, and avoid flavored syrups and sugar all together. Do that, and coffee can be your good friend for life.

Hoping this article will be useful for every one.
Analyse yourself accordingly to your own self lifestyle, not necessarily similar to mine.
Anwari Doel Arnowo – 2010/07/20